BAB IV

PENYUSUNAN INSTRUMEN PENILAIAN

A. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN INSTRUMEN

Agar soal yang disiapkan oleh setiap guru menghasilkan bahan ulangan/ujian yang sahih dan handal, maka harus dilakukan langkah-langkah berikut, yaitu:

  1. menentukan tujuan tes,
  2. menentukan kompetensi yang akan diujikan,
  3. menentukan materi yang diujikan,
  4. menetapkan penyebaran butir soal berdasarkan kompetensi, materi, dan bentuk penilaiannya (tes tertulis: bentuk pilihan ganda, uraian; dan tes praktek),
  5. menyusun kisi-kisinya,
  6. menulis butir soal,
  7. memvalidasi butir soal atau menelaah secara kualitatif,
  8. merakit soal menjadi perangkat tes,
  9. menyusun pedoman penskoran
  10. uji coba butir soal
  11. analisis butir soal secara kuantitatif dari data empirik hasil uji coba
  12. perbaikan soal berdasarkan hasil analisis

B. PENENTUAN TUJUAN TES

Hal pertama yang harus dilakukan oleh guru ketika akan menyusun instrumen penilaian adalah menentukan tujuan penilaian. Adapun tujuan penilaian dapat ditinjau dari sisi fungsi tes yang dapat digolongkan ke dalam enam golongan :

1. Tes Seleksi

Dilihat dari istilahnya, maka tes ini biasa digunakan melakukan penyaringan atas sejumlah peserta tes yang hanya akan diambil sebagian orang saja.  Materi pada tes seleksi ini merupakan prasyarat untuk mengikuti suatu program, baik itu program pendidikan ataupun seleksi untuk mendapatkan pekerjaan.

Sesuai dengan sifatnya, maka tes ini terdiri atas soal-soal yang cukup sulit sehingga hanya peserta tes yang memiliki kemampuan tinggilah yang dapat menjawab dengan benar.

2. Tes Awal / Pre-Tes

Tes awal adalah tes yang dilaksanakan sebelum materi pelajaran disampaikan kepada siswa. Tes ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana  materi pelajaran yang akan diajarkan telah dikuasai oleh siswa. Tes ini juga sering dikatakan digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa.

Dilihat dari fungsinya, maka tes awal ini berupa soal-soal yang diambil dari materi pelajaran yang akan disampaikan.

3. Tes Akhir / Post-Tes

Tes akhir adalah tes yang dilaksanakan setelah materi pelajaran disampaikan kepada siswa. Tes dibuat dengan tujuan untuk mengetahui ketercapaian atau penguasaan materi yang telah diajarkan oleh guru. Tes akhir ini biasanya sama dengan tes awal atau paralel dengan tes awal.

4. Tes Diagnostik

Tes ini digunakan untuk mengidentifikasi letak kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dengan mengetahui letak kesulitan maka guru akan dapat memberikan terapi untuk melakukan perbaikan. Oleh karena fungssinya sebagai diagnostik, maka materi yang diujikan adalah materi yang esensial dan umumnya berdasarkan pengalaman guru sulit dipahami oleh siswa.

5. Tes Formatif

Tes formatif biasa dilakukan di tengah-tengah perjalanan program pengajaran, yaitu pada akhir setiap indikator kompetensi ataupun sebuah kompetensi dasar. Tes ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana bahan pelajaran yang telah disampaikan oleh guru dapat terserap oleh siswa. Tes formatif ini juga biasa disebut sebagai ulangan harian. Oleh karena fungsinya untuk mengetahui keterserapan seluruh materi oleh siswa, maka materi tes juga meliputi seluruh bahan pelajaran yang sudah disampaikan baik yang mudah sampai dengan yang sukar.

6. Tes Sumatif

Tes sumatif adalah tes yang diberikan kepada siswa setelah selesainya sebuah satuan program pelajaran. Tes ini biasa dilakukan di akhir semester ataupun pada akhir tahun. Untuk kelas terakhir, maka biasa juga disebut sebagai ujian akhir. Materi pada tes ini meliputi seluruh materi yang telah disampaikan guru selama satu semester ataupun selama siswa menempuh pendidikan di sekolah tersebut untuk ujian akhir.

C. PENENTUAN KOMPETENSI DAN MATERI TES

Penilaian kompetensi melalui tes berhubungan erat dengan penguasaan materi pembelajaran. Peserta didik yang kompeten dapat diukur dengan berbagai cara, diantaranya melalui pengukuran terhadap penguasaan materi pembelajaran.

Langkah awal yang harus dilakukan dalam menyiapkan bahan ulangan/ujian adalah menentukan kompetensi dan materi yang akan diujikan. Setelah menentukan kompetensi yang akan diukur, maka langkah berikutnya adalah menentukan materi yang akan ditanyakan. Penentuan materi yang akan diujikan sangat penting karena di dalam satu tes tidak mungkin semua materi yang telah diajarkan dapat diujikan dalam waktu yang terbatas, misalnya satu atau dua jam. Oleh karena itu, setiap guru harus menentukan materi mana yang sangat penting dan penunjang, sehingga dalam waktu yang sangat terbatas, materi yang diujikan hanya menanyakan materi-materi yang sangat penting saja. Materi yang telah ditentukan harus dapat diukur sesuai dengan bentuk tes yang akan digunakan yaitu tes (tertulis atau perbuatan) atau non-tes.

Penentuan materi penting dilakukan dengan memperhatikan kriteria:

1.      Urgensi, yaitu materi secara teoritis mutlak harus dikuasai oleh peserta didik,

2.      Kontinuitas, yaitu materi lanjutan yang merupakan pendalaman dari satu atau lebih materi yang sudah dipelajari sebelumnya,

3.      Relevansi, yaitu materi yang diperlukan untuk mempelajari atau memahami, mata pelajaran lain,

4.      Keterpakaian, yaitu rnateri yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan sehari­-hari.

Setelah kegiatan penentuan materi yang akan ditanyakan selesai dikerjakan, maka kegiatan berikutnya adalah menentukan secara tepat perilaku yang akan diukur. Perilaku yang akan diukur, pada Kurikulum  Berbasis Kompetensi tergantung pada tuntutan kompetensi, baik standar kompetensi maupun kompetensi dasarnya. Setiap kompetensi di dalam kurikulum memiliki tingkat keluasan dan kedalaman kemampuan yang berbeda. Semakin tinggi kemampuan/perilaku yang diukur sesuai dengan target kompetensi, maka semakin sulit soal dan semakin sulit pula menyusunnya. Dalam Standar Isi, perilaku yang akan diukur dapat dilihat pada “perilaku yang terdapat pada rumusan kompetensi dasar atau pada standar kompetensi”. Bila ingin mengukur perilaku yang lebih tinggi, guru dapat mendaftar terlebih dahulu semua perilaku yang dapat diukur, mulai dari perilaku yang sangat sederhana/mudah sampai dengan perilaku yang paling sulit/tinggi, berdasarkan rumusan kompetensinya (baik standar kompetensi maupun kompetensi standar). Dari susunan perilaku itu, pilihlah satu perilaku yang tepat diujikan kepada peserta didik, yaitu perilaku yang sesuai dengan kemampuan siswa di kelas.

D. JENIS PERILAKU YANG DAPAT DIUKUR

Dalam menentukan perilaku yang akan diukur, penulis soal dapat mengambil atau memperhatikan jenis perilaku yang telah dikembangkan oleh para ahli pendidikan, di antaranya seperti Benjamin S. Bloom, Quellmalz, R.J. Mazano dkk, Robert M. Gagne, David Krathwohl, Norman E. Gronlund dan R.W. de Maclay, Linn dan Gronlund. Di Indonesia untuk ranah kognitif taksonomi dari Benjamin S. Bloom masih banyak digunakan.

Berikut tiga ranah yang dapat diukur untuk hasil belajar siswa :

1. Ranah Kognitif dari Bloom

a. Pengetahuan : ranah ini menuntut siswa untuk mengingat kembali atau recall informasi yang telah diterima sebelumnya, misalnya istilah, ide, gejala, rumus dan sebagainya tanpa tuntutan untuk memahami dan menggunakannya. Contoh kata kerja yang tepat untuk ranah ini adalah : menyebutkan, menunjukkan, mendefinisikan kembali.

Contoh :

Cara yang digunakan untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak bumi adalah ….

a. distilasi                    b. ekstraksi      c. sublimasi      d. dekantasi     e. adisi

b. Pemahaman : ranah ini menuntut siswa untuk dapat memahami makna dari suatu konsep, situasi, rumus, serta fakta. Kata kerja yang tepat untuk ranah ini adalah membedakan, mengubah, menyajikan, menjelaskan, memberi contoh.

Contoh :

Yang merupakan isomer dari 2,3-dimetil-1-butena adalah….

a. 2-butena                  c. 2-metil-1-butena                  e. 2-metil-2-butena

b. 2-heksena                d. 2,2-dimetil-1-pentena

c. Aplikasi : ranah ini menuntut siswa untuk dapat memilih, menggunakan, dan menerapkan secara tepat prinsip, hukum, teori dan metode atau hal-hal yang telah diketahuinya pada situasi yang baru. Kata kerja operasional dalam perumusan indikator yang dapat digunakan menggunakan, menerapkan, menghubungkan, memilih, mengembangkan, mengorganisasikan, mengklasifikasikan.

Contoh :

Suatu asam Ha mempunyai Pka=3,2. Penambahan  x mol NaA ke dalam 500 ml larutan HA 0,2 M menghasilkan pH larutan 3,5. Jumlah mol NaA yang ditambahkan adalah ….

a. 0,025                                   c. 0,10                                     e. 0,25

b. 0,05                                     d. 0,20

d. Sintesis : ranah ini menuntut siswa untuk dapat memadukan secara logis bagian-bagian, faktor-faktor sehingga menjadi suatu pola struktur baru. Kata kerja operasional yang dapat digunakan adalah menghubungkan, menghasilkan, menggabungkan, mengorganisasikan, menyimpulkan dan mengembangkan.

Contoh :

Di dalam suatu larutan terdapat ion-ion X+2; Y+2; dan Z+2 dengan konsentrasi masing-masing 0,1 M. Ke dalam larutan ini ditambahkan NaOH padat, sehingga pH larutan menjadi 8. berdasarkan data berikut :

Ksp X(OH)2 = 2,8 x 10-10

Ksp Y(OH)2 = 4,5 x 10-11

Ksp Z(OH)2 = 1,6 x 10-14

Maka hidroksida yang mengendap adalah ….

a. X(OH)2 c. Z(OH)2 e. Y(OH)2 dan Z(OH)2

b. Y(OH)2 d. X(OH)2 dan Y(OH)2

e. Analisis : ranah ini menuntut siswa untuk dapat menguraikan atau memerinci suatu keadaan menurut bagian-bagian atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Kata kerja operasional yang dapat digunakan adalah membedakan, menemukan, mengklasifikasikan, mengkategorikan, menganalisis.

Contoh :

Dalam satu liter larutan terdapat campuran garam-garam CuCl2, MgCl2, dan BaCl2 yang masing-masing konsentrasinya 0,01 M. Jika ditambahkan 53 gram Na2CO3, garam yang mengendap adalah …..

( Mr Na2CO3 = 106; Ksp MgCO3 = 4x 10-5; CuCO3 = 2,5 x 10-10; dan BaCO3 = 1,0x 10-9 pada suhu 250 C).

a. MgCO3 c. MgCO3 dan CuCO3 e. MgCO3 dan BaCO3

b. CuCO3 d. CuCO3 dan BaCO3

f. Evaluasi : ranah ini merupakan jenjang kognitif paling tinggi yang menuntut siswa untuk dapat memecahkan permasalahan yang diajukan dengan menggunakan seluruh ranah kemampuan yang dimiliki. Kata kerja operasional yang dapat digunakan adalah menafsirkan, mempertimbangkan, mengargumentasikan, menaksir.

Contoh :

Arang kayu mengandung 60% karbon, jika kalor pembakaran C = 395,2 kJ/mol dan harga arang kayu Rp. 900,-/kg maka tiap rupiah akan menghasilkan kalor sebesar …. kJ

a. 20,95                                   c. 31,95                                   e. 25,95

b. 21,95                                   d. 35,95

2. Ranah Afektif

Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai kerhasilan studi secara optimal.  Seseorang yang  berminat dalam  suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal

Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.

Skala yang sering digunakan dalam instrumen penelilaian afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.

Contoh Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran kimia

7

6

5

4

3

2

1

1.     Saya senang belajar kimia

2.     Pelajaran sejarah bermanfaat

3.     Saya berusaha hadir tiap ada jam pelajaran kimia

4.     Saya berusaha memiliki buku pelajaran kimia

5.     Pelajaran kimia membosankan

dst

Contoh skala Likert: Sikap terhadap pelajaran kimia

1.    Pelajaran kimia bermanfaat                                     SS      S        TS      STS

2.    Pelajaran kimia sulit                                                SS      S        TS      STS

3.    Tidak semua harus belajar kimia                             SS      S        TS      STS

4.    Pelajaran kimia harus dibuat mudah                       SS      S        TS      STS

Keterangan:

SS     : Sangat setuju

S        : Setuju

TS      : Tidak setuju

STS    : Sangat tidak setuju

Contoh skala beda Semantik:

Pelajaran kimia

a

b

c

d

e

f

g

Menyenangkan

Membosankan

Sulit

Mudah

Bermanfaat

Sia-sia

Menantang

Menjemukan

Banyak

Sedikit

3. Ranah Psikomotor

Berkaitan dengan psikomotor, Bloom (1979) berpendapat bahwa ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Singer (1972) menambahkan bahwa pelajaran berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan. Mata pelajaran kimia termasuk salah satu mata pelajaran yang menuntut ketrampilan dari siswa.

E.        PENENTUAN DAN PENYEBARAN SOAL

Setelah menentukan tujuan penilaian dan materi penting, maka langkah berikutnya adalah menentukan jumlah soal setiap kompetensi dasar dan penyebaran soalnya. Untuk memudahkan dalam pelaksanaannya, maka perhatikan langkah-langkah berikut ini.

1.   Menentukan tujuan penilaian. Misalnya untuk penilaian formatif seperti: ulangan harian, pemberian tugas/PR/latihan; atau penilaian sumatif seperti: ulangan akhir semester, kenaikan kelas, atau kelulusan.

2.   Menentukan materi penting dari beberapa kompetensi yang akan diukur.

3.   Menentukan jumlah butir soal yang akan diujikan. Penentuan ini didasarkan pada waktu yang tersedia.

4.   Menentukan proporsi soal atau jumlah butir soal pada setiap kelas (bila untuk penilaian akhir semester).

5.   Menentukan proporsi soal atau jumlah butir soal pada setiap kompetensi.

6.   Menentukan proporsi soal atau jumlah butir soal setiap semester pada setiap kelas (bila untuk penilaian akhir semester).

7.   Menentukan penyebaran butir soal yang diurutkan dari soal nomor 1 sampai dengan nomor terakhir.

8.   Menentukan perilaku yang akan diukur pada setiap materi.

9.   Merumuskan indikator soal secara tepat, yaitu untuk tes tertulis (bentuk uraian, jawaban singkat, pilihan ganda, atau bentuk lainnya), tes lisan, atau tes perbuatan.

10. Menuliskannya ke dalam format kisi-kisi tes.

Untuk dapat menentukan jumlah soal setiap kompetensi dapat juga digunakan rumus sederhana sebagai berikut :

F. PENYUSUNAN KISI-KISI SOAL

Kisi-kisi (test blue-print atau table of specification) merupakan deskripsi kompetensi dan materi yang akan diujikan. Tujuan penyusunan kisi-kisi adalah untuk menentukan ruang lingkup dan tekanan tes yang setepat-tepatnya, sehingga dapat menjadi petunjuk dalam menulis soal. Adapun wujudnya dapat berbentuk format atau matriks seperti contoh berikut ini.

Setelah dihitung jumlah soal pada masing-masing kompetensi dengan rumus di atas penyusunan kisi-kisi akan lebih mudah apabila kita membuat terlebih dahulu tabel bantuan :

Materi / Kompetensi

Penyebaran Jumlah Soal Tiap Jenjang kognitif

Jumlah Soal

C1

C2

C3

C4

C5

C6

Jumlah

Penentuan jumlah soal pada masing-masing kompetensi dan masing-masing jenjang kognitif dengan memperhatikan prosentase bobot soal mudah : sedang : sukar, yang biasanya ditentukan oleh sekolah penyelenggara tes.

Selanjutnya setelah lengkap tabel bantuan di atas, mulai dapat disusun kisi-kisi soal tes dengan format sebagai berikut :

FORMAT KISI-KISI PENULISAN SOAL

Jenis sekolah         :  ………………………..    Jumlah soal                              :  ………

Mata pelajaran       :  ………………………   Bentuk soal/tes                        :  ………

Kurikulum             :  ………………………   Penyusun                                 1.  ……

Alokasi waktu       :  ………………………                                                   2.  ……

No.

Kompetensi dasar

Hasil belajar/

Indikator

Kls/

smt

Materi

pokok

Indikator soal

Nomor

soal

Keterangan:

Isi pada kolom 2, 3. 4, dan 5 adalah harus sesuai dengan pernyataan yang ada di dalam silabus/kurikulum. Penulis kisi-kisi tidak diperkenankan mengarang sendiri, kecuali pada kolom 6.

Kisi-kisi yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan berikut ini.

1.   Kisi-kisi harus dapat mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proporsional.

2.   Komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami.

3.   Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan soalnya.

Indikator dalam kisi-kisi merupakan pedoman dalam merumuskan soal yang dikehendaki. Kegiatan perumusan indikator soal merupakan kegiatan akhir dalam penyusunan kisi-kisi. Untuk merumuskan indikator dengan tepat, para tutor/ guru harus memperhatikan isi kolom dalam kisi-kisi yaitu: materi yang akan diujikan, hasil belajar/pengalaman belajar/indikator pembelajaran, dan kompetensi dasar. Indikator yang baik adalah indikator yang dirumuskan secara singkat dan jelas. Indikator soal yang digunakan dalam penilaian sebaiknya menggunakan stimulus (dasar pertanyaan) yang dapat berupa gambar, grafik, tabel, data hasil percobaan, atau kasus yang dapat merangsang/memotivasi peserta didik berpikir sebelum menentukan pilihan jawaban.  Rumusan indikator penilaian yang lengkap mencakup 4 komponen, yaitu A = audience, B = behaviour, C = condition, dan D = degree

Syarat indikator yang baik adalah:

  1. menggunakan kata kerja operasional (perilaku khusus) yang tepat,
  2. menggunakan satu kata kerja operasional untuk soal objektif, dan satu atau lebih kata kerja operasional untuk soal uraian/tes perbuatan,
  3. dapat dibuatkan soal atau pengecohnya (untuk soal objektif).
  4. materi tidak perlu ditunjukkan secara eksplisit
  5. sebuah indikator soal hanya digunakan untuk sebuah soal saja pada sebuah perangkat instrumen tes.

Contoh indikator kurang baik : Diberikan data tentang entalpi pembentukan standar dari CH4, CO2 dan H2O siswa dapat menghitung perubahan entalpi pembakaran metana. ( indikator tersebut terlalu mengekang penulis soal sehingga tidak bisa berkreasi menulis soal dan tidak akan bisa dibuat soal paralelnya )

Contoh indikator yang baik : Diberikan data tentang entalpi pembentukan standar dari senyawa-senyawa yang terlibat dalam reaksi, siswa dapat menghitung perubahan entalpi pembakaran dari suatu senyawa hidrokarbon sederhana. ( indikator ini memberikan kebebasan penulis soal untuk berkreasi menulis soal tanpa keluar dari indikator soal )

G. PENULISAN BUTIR SOAL TES TERTULIS

Penulisan butir soal tes tertulis merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam penyiapan bahan ulangan/ujian. Setiap butir soal yang ditulis harus berdasarkan rumusan indikator soal yang sudah disusun dalam kisi-kisi dan berdasarkan kaidah penulisan soal bentuk obyektif dan kaidah penulisan soal uraian.

Penggunaan bentuk soal yang tepat dalam tes tertulis, sangat tergantung pada perilaku/kompetensi yang akan diukur. Ada kompetensi yang lebih tepat diukur/ditanyakan dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal uraian, ada pula kompetensi yang lebih tepat diukur dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal objektif. Bentuk tes tertulis pilihan ganda maupun uraian memiliki kelebihan dan kelemahan satu sama lain.

Keunggulan soal bentuk pilihan ganda di antaranya adalah dapat mengukur kemampuan/perilaku secara objektif, sedangkan untuk soal uraian di antaranya adalah dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan gagasan dan menyatakan jawabannya menurut kata-kata atau kalimat sendiri. Kelemahan soal bentuk pilihan ganda di antaranya adalah sulit menyusun pengecohnya, sedangkan untuk soal uraian di antaranya adalah sulit menyusun pedoman penskorannya.

1. Penulisan Soal Bentuk Uraian

Menulis soal bentuk uraian diperlukan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskannya. Ketepatan yang dimaksud adalah bahwa materi yang ditanyakan tepat diujikan dengan bentuk uraian, yaitu menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Adapun kelengkapan yang dimaksud adalah kelengkapan perilaku yang diukur yang digunakan untuk menetapkan aspek yang dinilai dalam pedoman penskorannya. Hal yang paling sulit dalam penulisan soal bentuk uraian adalah menyusun pedoman penskorannya. Penulis soal harus dapat merumuskan setepat-tepatnya pedoman penskorannya karena kelemahan bentuk soal uraian terletak pada tingkat kesubyektifan penskorannya.

Berdasarkan metode penskorannya, bentuk uraian diklasifikasikan menjadi 2, yaitu uraian objektif dan uraian non-objektif. Bentuk uraian objektif adalah suatu soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tertentu, sehingga penskorannya dapat dilakukan secara objektif. Artinya jawaban benar sudah jelas. Bentuk uraian non-objektif adalah suatu soal yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep menurut pendapat masing-masing peserta didik, sehingga penskorannya sukar untuk dilakukan secara objektif. Untuk mengurangi tingkat kesubjektifan dalam pemberian skor ini, maka dalam menentukan perilaku yang diukur dibuatkan skala. Contoh misalnya perilaku yang diukur adalah “kesesuaian isi dengan tuntutan pertanyaan”, maka skala yang disusun disesuaikan dengan tingkatan kemampuan peserta didik yang akan diuji.

Agar soal yang disusun bermutu bailk, maka penulis soal harus memperhatikan kaidah penulisannya. Untuk memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan pengembangan soal, maka soal ditulis di dalam format. Setiap satu soal dan pedoman penskorannya ditulis di dalam satu format. Adapun format soal bentuk uraian dan format penskorannya adalah seperti berikut ini.

KARTU SOAL

Jenis Sekolah           :                                  Penyusun:       1. …………

Mata Pelajaran         :                                                          2. …………….

Bahan Kls/Smt        :                                                           3. ………….

Bentuk Soal             :                                  Tahun Ajaran:

Aspek yang diukur   : Kognitif / afektif / psikomotor

KOMPETENSI DASAR

BUKU SUMBER:

RUMUSAN BUTIR SOAL

MATERI

NO SOAL:

INDIKATOR SOAL

FORMAT PEDOMAN PENSKORAN

NO

SOAL

KUNCI/KRITERIA JAWABAN

SKOR

Wujud soalnya terdiri dari: (1) dasar pertanyaan/stimulus bila ada/diperlukan, (2) pertanyaan, dan (3) pedoman penskorannya.

Adapun kaidah penulisan soal uraian adalah seperti berikut ini­.

1.      Materi

a.   Soal harus sesuai dengan indikator.

b.   Setiap pertanyaan harus diberikan batasan jawaban yang diharapkan.

c.   Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan tujuan peugukuran.

d.   Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas.

2.      Konstruksi

a.   Menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut jawaban terurai.

b.   Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.

c.   Setiap soal harus ada pedoman penskorannya.

d.   Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca.

3.      Bahasa

a.   Rumusan kalimat soal harus komunikatif.

b.   Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (baku).

c.   Tidak menimbulkan penafsiran ganda.

d.   Tidak mempergunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.

e.   Tidak mengandung kata/ungkapan yang menyinggung perasaan siswa.

2.         Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda

Menulis soal bentuk pilihan ganda sangat diperlukan keterampilan dan ketelitian. Hal yang paling sulit dilakukan dalam menulis soal bentuk pilihan ganda adalah menuliskan pengecohnya. Pengecoh yang baik adalah pengecoh yang tingkat kerumitan atau tingkat kesederhanaan, serta panjang-pendeknya relatif sama dengan kunci jawaban. Oleh karena itu, untuk memudahkan dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda, maka dalam penulisannya perlu mengikuti langkah-langkah berikut, langkah pertama adalah menuliskan pokok soalnya, langkah kedua adalah menuliskan kunci jawabannya, kemudian langkah ketiga adalah menuliskan pengecohnya.

Soal bentuk pilihan ganda merupakan soal yang telah disediakan pilihan jawabannya. Warga belajar/peserta didik yang mengerjakan soal hanya memilih satu jawaban yang benar dari pilihan jawaban yang disediakan. Wujud soalnya terdiri dari: (1) dasar pertanyaan/stimulus (bila ada), (2) pokok soal (stem), (3) pilihan jawaban yang terdiri dari: kunci jawaban dan pengecoh.

Untuk memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan perkembangan soal, maka soal ditulis di dalam format soal. Setiap satu soal ditulis di dalam satu format. Adapun formatnya seperti berikut ini.

KARTU SOAL

Jenis Sekolah            :  ……………………………….  Penyusun   :  1.

Mata Pelajaran         :  ……………………………….                       2.

Bahan Kls/Smt         :  ……………………………….                       3.

Bentuk Soal             :  ……………………………….

Tahun Ajaran           :  ……………………………….

Aspek yang diukur   :  ……………………………….

KOMPETENSI DASAR

BUKU SUMBER

RUMUSAN BUTIR SOAL

MATERI
NO SOAL:

KUNCI    :

INDIKATOR SOAL

KETERANGAN SOAL

NO

DIGUNAKAN UNTUK

TANGGAL

JUMLAH SISWA

TK

DP

PROPORSI PEMILIH

KET.

A

B

C

D

E

OMT

Adapun kaidah penulisan soal pilihan ganda adalah seperti berikut ini.

1.   Materi

a.   Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi.

b.   Pengecoh harus bertungsi

c.   Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. Artinya, satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban.

2.   Konstruksi

a.   Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya, kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan

b.   Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan saja.

c.   Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, kelompok kata, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar.

d.   Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran peserta didik terhadap arti pernyataan yang dimaksud. Untuk keterampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri.

e.   Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya, semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.

f.    Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan peserta didik memilih jawaban yang paling panjang karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.

g.   Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah” atau “Semua pilihan jawaban di atas benar”. Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka secara materi pilihan jawaban berkurang satu karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan dan pernyataan itu menjadi tidak homogen.

h.   Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis. Artinya pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun dari nilai angka paling kecil berurutan sampai nilai angka yang paling besar, dan sebaliknya. Demikian juga pilihan jawaban yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. Penyusunan secara unit dimaksudkan untuk memudahkan peserta didik melihat pilihan jawaban.

i.    Gambar, grafik, tabel, diagram, wacana, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Artinya, apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dapat dimengerti oleh peserta didik. Apabila soal bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik, tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal, berarti gambar, grafik, atau tabel itu tidak berfungsi.

j.    Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang.

k.   Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan peserta didik yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab benar soal berikutnya.

3.   Bahasa/budaya

a.   Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya meliputi: a) pemakaian kalimat: (1) unsur subyek, (2) unsur predikat, (3) anak kalimat; b) pemakaian kata: (1) pilihan kata, (2) penulisan kata, dan c) pemakaian ejaan: (1) penulisan huruf, (2) penggunaan tanda baca.

b. Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga pernyataannya mudah dimengerti warga belajar/peserta didik.

c.   Pilihan jawaban jangan yang mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata/frase pada pokok soal.

3.         Penulisan Soal Bentuk Isian

Dalam menulis soal bentuk isian, penulis soal harus mengetahui konsep dasar bentuk isian. Bentuk ini merupakan salah satu bentuk soal yang jawabannya menuntut peserta didik untuk melengkapi atau mengisi kata-kata atau kelompok kata yang dihilangkan. Soalnya disusun seperti kalimat lengkap, kemudian dihilangkan pada bagian tertentu yang harus diisi oleh peserta didik.

Adapun kaidah penulisannya adalah seperti berikut ini.

1.         Materi

a.   Soal harus sesuai dengan indikator

b.   Materi yang diukur sesuai dengan tuntutan bentuk isian.

2.      Konstruksi

a.   Pernyataan disusun sedemikian rupa, sehingga jelas jawaban yang diharapkan.

b.   Hindarkan petunjuk ke arah jawaban yang benar,

c.   Susunlah pertanyaan yang dapat mempermudah penskorannya.

d.   Hindarkan pernyataan-pernyataan yang kurang tegas.

e.   Susunlah soal dengan pernyataan berita.

f.    Usahakan hanya ada satu jawaban yang benar.

g.   Hindarkan pernyataan yang terlalu banyak dihilangkan. Sebuah soal yang terlalu banyak yang dihilangkan sukar diketahui apakah sebenarnya hal yang diukur. Pernyataan yang dihilangkan adalah benar-benar bentuk kata atau frasa yang merupakan kunci jawaban dan bukan hal-hal yang memang tidak penting.

h.   Hindarkan pernyataan yang diambil langsung persis sama dengan di dalam buku pelajaran.

i.    Tempat jawaban yang disediakan untuk setiap soal harus sama panjangnya.

j.    Dalam menyusun soal yang memerlukan jawaban rincian perlu disusun secara berurutan (alfabetis jawabannya). Hal ini untuk memudahkan pemeriksaannya.

k.   Daftarlah semua kemungkinan jawaban yang benar. Hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan jawaban benar yang tidak terduga dari siswa.

l.    Berilah nomor pada tiap-tiap tempat jawaban. Hal ini untuk memudahkan penilaiannya.

3.   Bahasa/budaya

a.      Bahasa soal harus komunikatif dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta didik.

b.      Gunakan bahasa Indonesia baku.

c.      Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.

3. Penulisan Butir Soal Untuk Tes Perbuatan

Tes perbuatan atau tes praktik merupakan suatu tes yang penilaiannya didasarkan pada perbuatan/praktik peserta didik. Sebelum menulis butir soal untuk tes perbuatan, guru dapat mengecek dengan pertanyaan berikut. Tepatkah kompetensi (yang akan diujikan) diukur dengan tes tertulis? Jika jawabannya tepat, kompetensi yang bersangkutan tidak tepat diujikan dengan tes perbuatan/praktik. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan, bentuk soal apa yang tepat digunakan, bentuk objektif atau uraian? Lalu guru menuliskan butir soal sesuai dengan bentuk soalnya. Bila jawaban pertanyaan di atas adalah tidak/kurang tepat diujikan dengan tes tertulis, maka kompetensi yang bersangkutan memang tepat diujikan dengan tes perbuatan/praktik.

Dalam menilai perbuatan/kegiatan/ praktik peserta didik dapat digunakan beberapa jenis penilaian perbuatan di antaranya adalah penilaian kinerja (performance), penugasan (project), dan hasil karya (product). Ketiga jenis penilaian ini akan diuraikan dan diberi contoh butir soal pada keterangan di bawah ini.

Dalam menulis butir soal untuk tes perbuatan, penulis soal harus mengetahui konsep dasar penilaian perbuatan/praktik. Maksudnya pernyataan dalam soal harus disusun dengan pernyataan yang betul-betul menilai perbuatan/praktik, bukan menilai yang lainnya. Adapun kaidah penulisannya adalah seperti berikut.

1.   Materi

a.   Soal harus sesuai dengan indikator (menuntut tes perbuatan: kinerja, hasil karya, atau penugasan).

b.   Pertanyaan dan jawaban yang diharapkan harus sesuai.

c.   Materi sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevansi, kontinuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi).

d.   Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas.

2.   Konstruksi

a.   Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban perbuatan/praktik.

b.   Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.

c.   Disusun pedoman penskorannya.

d.   Tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca­

3.   Bahasa/Budaya

a.   Rumusan kalimat soal komunikatif

b.   Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku.

c.   Tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian.

d.   Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.

e.   Rumusan soal tidak mengandung kata/ungkapan yang dapat menyinggung perasaan peserta didik.

4.    Penulisan Soal Penilaian Kinerja (Performance Assessment)

Penilaian kinerja merupakan penilaian yang meminta peserta didik untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam konteks yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Dalam menulis butir soal, perhatikann terlebih dahulu kompetensi dari materi yang akan ditanyakan.

5.    Penulisan Soal Penilaian Penugasan (Project)

Penilaian penugasan merupakan penilaian tugas (meliputi: pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, dan penyajian data) yang harus diselesaikan peserta didik (individu/kelompok) dalam waktu tertentu. Adapun aspek yang dinilai di antaranya meliputi kemampuan (1) pengelolaan, (2) relevansi, dan (3) keaslian.

6.    Penulisan Soal Penilaian Hasil Karya (Product)

Penilaian hasil karya merupakan penilaian keterampilan peserta didik dalam membuat suatu produk benda tertentu seperti hasil karya seni, misal lukisan, gambar, patung, dll. Aspek yang dinilai di antaranya meliputi: (1) tahap persiapan: pemilihan dan cara penggunaan alat, (2) tahap proses/produksi: prosedur kerja, dan (3) tahap akhir/hasil: kualitas serta estetika hasil karya. Di samping itu, guru dapat memberikan penilaian pada pembuatan produk rancang bangun/perekayasaan teknologi tepat guna misalnya melalui: (1) adopsi, (2) modifikasi, atau (3) difusi.

F. PENULISAN  BUTIR  SOAL UNTUK  INSTRUMEN NON-TES

Instrumen non-tes yang dimaksudkan di sini adalah instrumen selain tes di antaranya seperti tes sikap, motivasi, minat, emosi, bakat, moral, konsepsi diri, dan lain sebagainya. Adapun alat penilaiannya yang dapat digunakan diantaranya adalah: pengamatan/observasi (seperti catatan harian, portofolio, life skill) dan instrumen tes (seperti tes sikap, minat, dll).

Pada prinsipnya, prosedur penulisan butir soal untuk instrumen non-tes adalah sama dengan prosedur penulisan tes pada tes prestasi belajar, yaitu menyusun kisi-kisi tes menuliskan butir soal berdasarkan kisi–kisinya, telaah, validasi butir, uji coba butir, perbaikan butir berdasarkan hasil uji coba Namun, dalam proses awalnya, sebelum menyusun kisi-kisi tes terdapat perbedaan dalam menentukan validitas isi/konstruknya. Dalam tes prestasi belajar, validitas isi diperoleh melalui kurikulum dan buku pelajaran, tetapi untuk non-tes validitas isi/konstruknya diperoleh melalui “teori”. Teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian, dsb. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990 : 932)

Dalam kisi-kisi non-tes biasanya formatnya berisi dimensi, indikator, jumlah butir soal per indikator, dan nomor butir soal. Formatnya seperti berikut ini.

NO

DIMENSI

INDIKATOR

JUMLAH SOAL PER INDIKATOR

NOMOR SOAL

JUMLAH SOAL =

Untuk mengisi kolom dimensi dan indikator, penulis soal harus mengetahui terlebih dahulu validitas konstuknya yang disusun/dirumuskan melalui teori. Cara termudah untuk mendapatkan teori adalah membaca beberapa buku, hasil penelitian, atau mencari informasi lain yang berhubungan dengan variabel atau tujuan tes yang dikehendaki. Oleh karena itu, peserta didik atau responden yang hendak mengerjakan tes ini (instrumen non-tes) tidak mempersiapkan/belajar materi yang hendak diteskan terlebih dahulu seperti pada tes prestasi belajar.

Setelah teori diperoleh dari berbagai buku, maka langkah selanjutnya adalah menyimpulkan teori itu dan merumuskan mendefinisikan (yaitu definisi konsep dan definisi operasional) dengan kata-kata sendiri berdasarkan pendapat para ahli yang diperoleh dari beberapa buku yang telah dibaca. Definisi tentang teori yang dirumuskan inilah yang dinamakan konstruk. Berdasarkan konstruk yang telah dirumuskan itu, maka langkah selanjutnya adalah menentukan dimensi (tema-objek/hal-hal pokok yang menjadi pusat tinjauan teori), indikator (uraian/rincian dimensi yang akan diukur), dan penulisan butir soal berdasarkan indikatornya. Untuk lebih memudahkan dalam menyusun kisi-kisi tes, perhatikan alur urutannya seperti pada gambar berikut ini.

Berdasarkan gambar di atas, penulis soal dapat dengan  mudah mengecek apakah instrumen tesnya atau butir-butir soal sudah sesuai dengan indikatornya atau belum. Misalnya soal nomor 1 sampai dengan soal terakhir berasal darimana? Dari indikator. Indikator dari mana? Dari dimensi. Rumusan dimensi darimana? Dari konstruk. Rumusan konstruk darimana? Dari teori. Jadi kesimpulannya instrumen tes yang telah disusun merupakan alat ukur yang (sudah tepat atau belum tepat) mewakili teori.

Dalam penulisan soal pada instrumen non-tes, penulis butir soal harus memperhatikan ketentuan/kaidah penulisannya. Kaidahnya adalah seperti berikut ini.

1.   Materi

a.   Pernyataan harus sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi.

b.   Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek kognisi, afeksi atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya).

2.   Konstruksi

a.   Pernyataan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi 20 kata) dan jelas.

b.   Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja.

c.   Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda.

d.   Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu.

e.   Kalimatnya bebas dari pernyataan yang faktual atau dapat diinterpretasikan sebagai fakta.

f.    Kalimatnya bebas dari pernyataan yang dapat diinterpretasikan lebih dari satu cara.

g.   Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden.

h.   Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara lengkap.

i.    Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak pasti seperti semua, selalu, kadang-­kadang, tidak satupun, tidak pernah.

j.    Jangan banyak mempergunakan kata hanya, sekedar, semata-mata. Gunakanlah seperlunya.

3.    Bahasa/Budaya

a.   Bahasa soal harus komunikatif dan sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik atau responden.

b.   Soal harus menggunakan bahasa Indonesia baku.

c.   Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.

Berikut ini disajikan beberapa contoh penyusunan kisi-kisi beserta item-item soal non tes :

1. Tes Skala Sikap

Berbagai definisi tentang sikap yang telah dikemukakan oleh para ahli, di antaranya adalah Mueller (1986: 3) yang menyampaikan 5 definisi dari 5 ahli, adalah seperti berikut ini. (1) Sikap adalah afeksi untuk atau melawan, penilaian tentang, suka atau tidak suka, tanggapan positif/negatif terhadap suatu objek psikologis (Thurstone). (2) Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak ke arah atau melawan suatu faktor lingkungan (Emory Bogardus). (3) Sikap adalah kesiapsiagaan mental atau saraf (Goldon Allport). (4) Sikap adalah konsistensi dalam tanggapan terhadap objek-objek sosial (Donald Cambell). (5) Sikap merupakan tanggapan tersembunyi yang ditimbulkan oleh suatu nilai (Ralp Linton, ahli antropologi kebudayaan).

Berdasarkan beberapa definisi di atas, para ahli menyimpulkan bahwa sikap memiliki 3 komponen penting, yaitu komponen: (1) kognisi yang berhubungan dengan kepercayaan, ide, dan konsep; (2) afeksi yang mencakup perasaan seseorang; dan (3) konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku atau yang akan dilakukan. Oleh karena itu, ketiga komponen ini dimasukkan di dalam format kisi-kisi “sikap belajar peserta didik” seperti contoh berikut. Adapun definisi operasional sikap belajar adalah kecenderungan bertindak dalam perubahan tingkah laku melalui latihan dan pengalaman dari keadaan tidak tahu menjadi tahu yang dapat diukur melalui: toleransi, kebersamaan dan gotong-royong, rasa kesetiakawanan, dan jujur.

NO

DIMENSI

INDIKATOR

NOMOR SOAL YANG MENGUKUR

KOGNISI

AFEKSI

KONASI

+

-

+

-

+

-

1.

Toleransi a.  Mau menerima pendapat orang lain atau tidak memaksakan kehendak pribadi

b. Tidak mudah tersinggung

1

7

2

8

3

9

4

10

5

11

6

12

2.

Kebersamaan dan gotong royong a.  Dapat bekerja kelompok

b. Rela berkorban untuk kepentingan umum

3.

Rasa kesetiakawanan a.  Mau memberi dan meminta maaf

4.

dst

Contoh soalnya sebagai berikut :

No

PERNYATAAN

SS

S

TP

TS

STS

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Mau menerima pendapat orang lain merupakan

ciri bertoleransi.

Untuk mewujudkan cita-cita harus memaksakan kehendak

Saya suka menerima pendapat orang lain

Memilih teman di sekolah, saya utamakan mereka yang pandai saja

Kalau saya boleh memilih, saya akan selalu

mendengarkan usul-usul kedua orang tuaku.

Bekerja sama dengan orang yang berbeda

Suku lebih baik dihindarkan.

……

Keterangan :  SS = sangat setuju, S = setuju, TP = tidak berpendapat (ragu-ragu), TS = tidak setuju, STS = sangat tidak setuju.

2.  Tes Minat belajar

Minat adalah kesadaran yang timbul bahwa objek tertentu sangat disenangi dan melahirkan perhatian yang tinggi bagi individu terhadap objek tersebut (Crites, 1969 : 29). Di samping itu, minat juga merupakan kemampuan untuk memberikan stimulus yang mendorong  seseorang untuk   memperhatikan aktivitas yang dilakukan berdasarkan pengalaman yang sebenarnya (Crow and Crow , 1984 :248). Berdasarkan kedua penegertian tersebut, minat merupakan kemampuan seseorang untuk memberikan perhatian terhadap suatu objek yang disertai dengan rasa senang dan dilakukan penuh kesadaran.

Peserta didik yang menaruh minat pada suatu mata pelajaran, perhatiannya akan tinggi dan minatnya berfungsi sebagai pendorong  kuat untuk terlibat secara aktif dalam kegatan belajar mengjara pada pelajaran tersebut. Oleh karena itu, definisi operasional minat belajar adalah pilihan kesenangan dalam melakukan kegiatan dan dapat membangkitkan gairah seseorang untuk memenuhi kesediannya yang dapat diukur melalui kesukacitaan, ketertarikan, perhatian dan keterlibatan. Berikut contoh kisi-kisi dan soal minat belajar  kimia.

NO.

DIMENSI

INDIKATOR

NOMOR SOAL

1.

2.

3.

4.

Kesukaan

Ketertarikan

Perhatian

Keterlibatan

Gairah

Inisiatif

Responsif

Kesegaraan

Konsentrasi

Ketelitian

Kemauan

Keuletan

Kerja Keras

8, 13

16, 17

10, 15, 20

2, 6, 9

7, 19

3, 10

4, 5

1, 18

12, 14

Keterangan : Nomor yang bergaris bawah adalah untuk pernyataan positif

Contoh soalnya seperti berikut :

NO.

PERNYATAAN

SS

S

KK

J

TP

1.

2.

7.

16.

20.

….

Saya segera mengerjakan PR kimia sebelum

datang pekerjaan yang lain.

Saya asyik dengan pikiran sendiri ketika guru

menerangkan kimia di kelas.

Saya suka membaca buku kimia.

….

Keterangan :     SS = sangat sering, S = sering, KK = kadang-kadang,  J = jarang, TP = tidak pernah.

Perhatikan contoh tes minat lainya berikut :

CONTOH TES MINAT PESERTA DIDIK

TERHADAP MATA PELAJARAN

NO.

PERNYATAAN

SL

SR

JR

TP

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Saya Senang mengikuti pelajaran ini.

Saya rugi bila tidak mengikuti pelajaran ini.

Saya merasa pelajaran ini bermanfaat.

Saya berusaha menyerahkan tugas tepat waktu.

Saya berusaha memahami pelajaran ini.

Saya bertanya kepada guru bila ada yang tidak jelas

Saya mengerjakan soal-soal latihan di rumah.

Saya mendiskusikan materi pelajaran dengan teman sekelas.

Saya berusaha memiliki buku pelajaran ini.

Saya berusaha mencari bahan pelajaran di perpustakaan

Keterangan : SL = selalu, SR = sering, JR = jarang, TP = tidak pernah.

Keterangan : Dari 4 kategori: skor terendah 10, skor tertinggi 40.

33- 40 Sangat berminat

25- 32 Berminat

17- 24 Kurang berminat

10- 16 Tidak berminat

3.    Tes Motivasi Berprestasi

Secara konseptual motivasi berprestasi adalah motivasi yang mendorong peserta didik untuk berbuat lebih baik dari apa yang pernah dibuat atau diraih sebelumnya maupun yang dibuat atau diraih orang lain. Untuk dapat disusun instrumen pengukurannya, maka definisi dikembangkan menjadi definisi operasional. Adapun definisi operasional dari motivasi berprestasi adalah motivasi yang mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik dari apa yang pernah dibuat atau diraih sebelumnya maupun yang dibuat atau diraih orang lain yang dapat diukur melalui: (1) berusaha untuk  unggul dalam kelompoknya, (2) menyelesaikan tugas dengan baik, (3) rasional dalam meraih keberhasilan, (4) menyukai tantangan, (5) menerima tanggung jawab pribadi untuk sukses, (6) menyukai situasi pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi, umpan balik, dan resiko tingkat menengah.

CONTOH KISI-KISI PENYUSUNAN INSTRUMEN

VARIABEL MOTIVASI BERPRESTASI

INDIKATOR

NOMOR PERNYATAAN

JUMLAH

POSITIF

NEGATIF

  1. Berusaha unggul
  1. Menyelesaikan tugas

dengan baik

  1. Rasional dalam meraih keberhasilan
  2. Menyukai tantangan
  3. Menerima tanggung

jawab  pribadi untuk

sukses

  1. Menyukai situasi

pekerjaan dengan

tanggung jawab pribadi, umpan balik, dan resiko tingkat menengah

1,2,3

7,8,9

13,14,15

19,20,21

25,26,27,28

33,34,35,36

4,5,6

10,11,12

16,17,18

22,23,24

29,30,31,32

37,38,39,40

6

6

6

6

8

8

Jumlah  Pernyataan

20

20

40

CONTOH BUTIR SOAL:

1.      Saya bekerja keras agar prestasi saya lebih baik baripada teman- teman.

a. Selalu  b. Sering  c. Kadang-kadang  d. Jarang  e. Tidak pernah

4.      Saya menghindari upaya mengungguli prestasi teman-teman.

a. Selalu  b. Sering  c. Kadang-kadang  d. Jarang  e. Tidak pernah

9.      Saya berusaha untuk memperbaiki kinerja saya pada masa lalu.

a. Selalu  b. Sering  c. Kadang-kadang  d. Jarang  e. Tidak pernah

12.    Saya mengabaikan tugas-tugas sebelum ada yang mengatur

a. Selalu  b. Sering  c. Kadang-kadang  d. Jarang  e. Tidak pernah

SKOR JAWABAN

Skor Jawaban

a

b

c

d

e

Pernyataan Positif

5

4

3

2

1

Pernyataan Negatif

1

2

3

4

5